Selasa, 03 Februari 2009

ORANG-ORANG YANG CURANG

ORANG-ORANG YANG CURANG

OLEH: H. ZULKIFLI IMAM SAID

Firman Allah : QS Al-Mutaffifin

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ(1)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ(3)أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ(4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ(5)يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ


1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang

2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

3. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

4. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

5. Pada suatu hari yang besar,

6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

Kalau dilihat sementara ketika kita menipu orang lain yang tampak adalah keuntungan bagi orang yang menipu. Tapi sebenarnya adalah tidak, kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, sebenarnya mereka rugi baik di dunia maupun di akhirat.

Salah satu yang menyebabkan seseorang itu engkar adalah karena tidak mempercayai tentang hari kebangkitan. Karena itu Nabi mengatakan, usahakanlah kamu tinggal di dunia ini dengan lidahmu selalu berzikir menyebut nama Allah. Usahakanlah kamu tingal di dunia ini orang-orang yang selalu menangis karena kehilangan dan kamu tertawa karena kamu berjumpa dengan Sang Pencipta.

Ini sikap yang mesti ada sebagai tujuan dalam hidup kita. Kalau kebahagiaan akhirat yang paling utama dicari, maka Allah akan memberikan kebahagiaan di dunia. Orang-orang yang mencari keuntungan akhirat maka dunia ini akan diberikan saja kepadanya (akan diberi kemudahan selama hidupnya di dunia).

Salah satu kunci agar mudah hidup di dunia adalah kejujuran. Orang yang jujur ibarat benda yang langka dan banyak orang yang mencarinya. Ini juga penyebab sukses orang-orang sholeh dahulu.

ORANG-ORANG YANG BAHAGIA

ORANG-ORANG YANG BAHAGIA

OLEH: H. ZULKIFLI IMAM SAID

Firman Allah QS Hud 108 :

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ


Artinya : Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dalam surat Huud ini Allah katakana orang bahagia adalah orang yang berada di surge. Di dunia ini pun bisa kita nikmati surga tersebut. Siapa itu orang yang bahagia? Orang yang sehat wal afiat sehat tubuhnya tentram rohaninya.

Bahagia di dunia biasanya diukur dengan banyak harta, pangkat, kemasyhuran, gelar ilmu, kecantikan dan ketampanan. Semuanya itu tidak menjadi jaminan kebahagiaan.

Ada orang yang kaya tapi tidak mendapatkan kebahagiaan, sehingga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas apartemennya. Begitu juga pangkat, presiden, gubernur, bupati akan hidup dalamkecemasan karena takut pangkat itu berpisah darinya.

Gelar ilmu, juga tidak menjadi jaminan kebahagiaan. Takut ilmunya ditanding orang lain. Kadang-kadang untuk mendapatkan ilmu melakukan jalan yang salah membeli gelar.

Kecantikan dan ketampanan tidak selalu menjadikan sumber kebahagiaan. Telah banyak diberitakan bagaimana artis-artis cantik mengakhiri hidupnya dengan tragis karena jauh dari kebahagiaan. Ada orang pakai dasi kelihatan gagah tetapi ternyata dia bunuh diri dalam keadaan memakai dasi.

Ternyata harta, pangkat, kemasyhuran, gelar ilmu, kecantikan dan ketampanan tidak menjadi jaminan orang bahagia. Orang bahagia adalah orangyang dekat dengan Allah, orang yang yakin Allah akan menolongnya. Allah lah yang akan kokohkan tegaknya, kalau Allah yang mengokohkan tegaknya, siapa lagi yang sanggup untuk menggoyahkannya.

Tapi kalau selain Allah yang kita harapkan maka apapun yang kita dapatkan tidak akan membuat bahagia, karena itu hanya bersifat temporer. Orang yang dekat dengan Allah, Allah akan menjadi sumber kekuatannya. Dia yakin ketika sakit, Allahlah yang akan menyehatkannya. Usahanya hanya berobat kemudian diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

Untuk itu marilah kita bersungguh-sungguh mengejar prestasi yang di redhai Allah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang bahagia.

Orang yang mendustakan Agama

Orang yang mendustakan Agama

Oleh

H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ(1)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ(2)وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ(3)فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ(4)الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ(5)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ(6)وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ(7)

Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(QS. Al Maa’uun:1-7)

Dalam surat Al Maa’uun ini Allah katakan “sudahkah kamu lihat dan perhatikan orang-orang yang mendustakan agama?” yaitu orang-orang yang tidak mementingkan, tidak menyayangi dan tidak memuliakan anak yatim”.

Dalam Islam anak yatim adalah anak yang mulia sekali dan umat Islam berkewajiban menjadikan anak yatim itu sejahtera hidupnya. Kita tidak boleh menyakiti anak yatim. Kata Nabi, diusap saja kepala anak yatim itu dengan kasih sayang berarti sudah ada jalan kesurga untukmu. Memberi makan orang miskin juga tanda orang yang beragama. Memberi itu sangat tinggi nilainya dalam Islam. Usahakan kita menjadi orang yang suka memberi.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat yaitu shalatnya yang lalai. Shalat itu merupakan ukuran kemanusiaan. Jika shalatnya baik maka baik pula semua amalnya. Shalat merupakan gambaran kejiwaan seorang mukmin. Malas saja kita shalat akan jatuh pada munafik. Shalat tidak boleh dipermain-mainkan. Mari kita semua sama-sama memperbaiki cara sholat yang sebaik-baiknya karena shalat itu merupakan tiang agama.

Begitu dengan bangsa Indonesia, kalaulah mau bangsa Indonesia ini, warga Padang ini membaikkan dirinya merebut kebahagiaan dunia, kerjakanlah shalat sunnat fajar, 2 rakaat shalat sunnat fajar akan lebih baik daripada dunia dan segala isinya. Semua itu juga tergantung niat kita masing-masing, ikhlas kepada Allah atau tidak.

Mudah-mudahan kita terhindar dari golongan orang yang mendustakan agama. Amin

MENGAMALKAN KEBENARAN

MENGAMALKAN KEBENARAN

Oleh : H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah :

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لَا يَسْمَعُ إِلَّا دُعَاءً وَنِدَاءً صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

Artinya : ”Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti” (Q.S. AlBaqarah:171).

Allah SWT mengatakan dalam ayat ini perumpamaan orang-orang yang enggan melihat kebenaran, seperti menyeru kepada orang yang tuli, bisu dan buta.

Melihat ayat tersebut, takut kita kalau kita yang disindir oleh ayat ini, karena ada orang yang mendengar Alquran tapi tidak ada perubahan dalam dirinya, hanya sekedar mendengar suara-suara saja.

Maka kita perlu berlindung kepada Allah SWT ketika membaca Alquran. Berubahlah sikap kita yang sombong, kasar, emosi tak terkendali dan terburu-buru, menjadi orang yang turun emosinya, rajin dan naik volume kebaikannya setelah membaca Alquran.

Maka kita minta betul kepada Allah SWT supaya ketika kita diberi kesempatan untuk menyampaikan ayat Allah, agar apa yang kita sampaikan dapat kita amalkan, begitu juga kalau kita mendengarkan pengajian, kita minta agar kita mampu mengamalkan apa yang telah kita dengar tersebut.

Bahaya kalau kita berolok-olok dengan ayat Allah SWT. Allah katakan LAAYARJI’UUN (Mereka tidak dapat kembali kejalan yang benar). Orang yang benar-benar beriman akan dipelihara oleh Allah. Ketika Allah SWT memberi kita nikmat maka kita harus bersyukur dan ketika Allah SWT memberi kita musibah maka kita akan bersabar.

Rasul yang mulia mengatakan, dua tepian yang dilalui manusia. Kalau dua tepian itu mereka selamat, maka selamatlah manusia itu sampai ke akhirat, yaitu tepian nikmat dan musibah dengan bersyukur dan bersabar.

Contoh lain orang yang tidak menghiraukan kebenaran adalah ketika azan berkumandang, dia masih disibukkan dengan pekerjaannya dan hal ini sering terjadi di waktu shalat Asyar. Tidak salah Allah SWT bersumpah dengan waktu Asyar (Wal Ashr). Banyak orang yang sedang bekerja memberi alasan tanggung mencuci badan karena pekerjaannya hampir selesai, setelah selesai baru mengerjakan shalat. Hanya dengan alasan tanggung cuci badan, dia rela menunda waktu shalatnya.

Kalau kita lihat sebenarnya keras sindiran Allah SWT kepada orang yang mendengar kebaikan tapi tidak mengerjakannya. Sama seperti hewan yang seolah-olah pekak, buta dan tuli.

Untuk itu kita latih diri kita untuk mengamalkan kebaikan dan istiqamah di jalan kebaikan. Ketika ada orang yang menyampaikan kebenaran, kita harus bersyukur karena ada orang yang mengingatkan kita sehingga akan ada perubahan dalam sikap.

Mari kita ikat diri kita untuk mewiridkan setiap kebaikan. Apakah puasa senin-kamis, berzikir dengan jumlah tertentu atau amalan lainnya. Insya Allah, Allah angkat kita kemaqomam mahmuda.

Mencari Kebahagiaan Untuk Akhirat

Mencari Kebahagiaan Untuk Akhirat

Oleh

H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah :

وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash:77)

Allah mengajak kita untuk mencari apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita untuk (kebahagiaan) negeri akhirat. Allah menyuruh untuk berbuat kebaikan dengan Lillahi Ta’ala. Seorang siswa mencari ilmu harus karena Lillahi Ta’ala, Guru mengajar karena Lillahi Ta’ala begitu juga Orang didapur bekerja Lillahi Ta’ala. Jadi apapun yang dikerjakan harus dengan Lillahi Ta’ala. Karena orang-orang yang berbuat Lillahi Ta’ala yang akan dibayar oleh Allah Swt. Sedang orang-orang yang tidak Lillahi Ta’ala tidak akan mendapat bayaran apa-apa.

Sia-sialah pekerjaan yang tidak diniatkan tidak karena Allah. Bahkan shalat yang kita kerjakan dengan tidak Lillahi Ta’ala, tidak akan dibayar oleh Allah Swt. Hendaknya semua kita lebih menekankan lagi Lillahi Ta’ala. Itulah maksud Allah, “tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. Maksud ibadah bukan harus shalat sepanjang masa atau haji setiap tahun atau puasa setiap hari, bukan itu maksudnya.

Maksud ibadah itu adalah apapun yang kita kerjakan diniatkan karena Allah Swt, barulah Allah membalasnya. Seperti orang yang pergi jihad berperang, jika tidak diniatkan karena Allah dia tidak termasuk mati syahid walaupun berperang membela Islam.

Allah telah menyuruh kita mencari untuk diakhirat, tapi jangan lupa dengan nasib kita didunia Allah telah menjelaskan jika kamu bersedekah janganlah terlalu boros, sisakanlah untuk dirimu sedikit tapi tidak boleh juga terlalu kikir. Jadi kita harus mengimbanginya, berusaha untuk menjadi umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.

Untuk itu marilah kita perbaharui niat kita kembali, agar menjadi niat yang baik dan mudah-mudahan kita merupakan umat terbaik di sisi Allah Swt. Amin

MEMELIHARA PANDANGAN

MEMELIHARA PANDANGAN

OLEH: H. ZULKIFLI IMAM SAID


Firman Allah dalam QS An Nur 30-31 :

Dalam surat an-Nur ayat 30 dan 31 di atas Allah mengatakan, “katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka memelihara pandangan dan menjaga dirinya yang demikian itu sangat baik bagi mereka dan menjaga dirinya yang demikian itu sangat baik bagi mereka dan Allah akan mengabarkan apa yang telah mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga dirinya”.

Mengapa Allah suruh kita untuk menundukkan pandangan. Pandangan itu sangat berbahaya dan pandangan juga bisa sangat bermanfaat. Pandangan digunakan untuk kebaikan untuk menuntut ilmu dan pandangan digunakan untuk mendengarkan ilmu. Tapi kalau salah guna akan sangat berbahaya sekali. Bisa terjadi pembunuhan, perceraian rumah tangga dan tindak kejahatan lainnya.

Misalnya Amerika melihat Irak dan Iran kaya, lalu timbul nafsu jahat untuk merebut kekayaan itu. Amerika adalah Negara yang besar dan kuat, jadi mudah menguasai Irak dan Iran yang masih lemah pertahanan negaranya. Beginilah jahatnya nafsu. Adanya juga rumah tangga yang harmonis akhirnya menjadi hancur karena nafsu telah menguasai salah satu dari mereka.

Makanya Islam melarang dan memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Allah perintahkan jangan layangkan pandangan pada orang-orang yang kami berikan perhiasan dunia. Kita lihat mengapa Qarun itu dikagumi, Al Qur’an mengatakan bahwa Qarun adalah orang yang gagal tapi orang-orang yang dizamannnya waktu itu sangat mengagumi Qarun karena kemewahan, kemegahan, harta, pangkat dan kedudukannya. Mereka mengira bahwa Qarun adalah orang yang sangat berbahagia padahal dia adalah orang yang celaka.

Begitu juga dalam pendengaran, dalam mendengarkan berita jangan lansung dipercayai kebenarannya. Berhati-hatilah menggunakan mata dan telinga ini. Keduanya sangat berpengaruh dalam kehidup ini . Jika kedua hal ini telah rusak maka rusak pulalah hatinya.

LARANGAN MENDEKATI ZINA

LARANGAN MENDEKATI ZINA

OLEH: H. ZULKIFLI IMAM SAID

Firman Allah :

Ÿوَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: Dan jangan kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al- Israa: 32)

Dalam ayat di atas Allah mengatakan “janganlah kamu dekati apa-apa yang akan mengarahkan kamu kepada perbuatan yang sangat keji dan buruk. Hari ini, system kta betul yang salah. Membuka pintu zina ini selebar-lebarnya sehingga masyarakat kita menjadi sangat rusak.

Banyak hal-hal yang mengantarkan manusia pada perzinahan baik melalui TV, radio, computer, Koran, majalah atau apa saja yang bisa mengarah kesana. Banyak orang sekarang, baik anak-anak, remaja, dewasa bahkan yang telah tua berpacaran. Pacaran adalah sekeji dan seburuk-buruknya pekerjaan. Padahal jauh sekali perbedaan antara pacaran dan pernikahan.

Sewaktu Ijab Kabul diucapkan, Allah telah menanamkan rasa kasih saying pada pasangan tersebut. Sedangkan ketika saat orang berpacaran yang memberikan rasa kasih saying itu adalah syaitan. Tapi bukan menanamkan kasih sayang hanya membunga-bungai menjadikan yang jelek menjadi indah. Pernikahan menjadikan yang haram menjadi halal. Dengarlah peringatan yang telah Allah sampaikan pada kita. Jangan sampai kita tergelincir pada lumpur dosa dan penyesalan yang tiada berakhir.

Banyak terjadi perkosaan, melakukan hubungan suami istri atas dasar pacaran dan suka sama suka dan bahkan ada yang berakhir dengan pembunuhan. Ini diakibatkan karena system yang salah. Orang tua tidak menjaga dan membesarkan anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam. Di sekolah juga kurang disiplin dalam membatasi pergaulan murid laki-laki dan murid perempuan.

Al-Qur’an adalah system yang paling benar. Allah mengetahui tentang kita baik dari segi kebaikan maupun keburukan kita. Jadi berhati-hatilah dalam berteman dan sibukkanlah diri kita untuk hal-hal yang bermanfaat. Jauhkan diri dari pergaulan bebas yang ujung-ujungnya berakhir malapetaka. Mudah-mudah-mudahan dengan sitem pesantren dan kembali ke surau, kita kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah.