Selasa, 03 Februari 2009

BAHAYANYA KEBOHONGAN

Oleh : H. Zulkifli Imam Said


QS. Al-Mutaffifin : 1 – 7

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ(1)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ(3)أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ(4)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ(5)يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ(6)كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ(7)

Artinya : “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka engurangi.Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”

(Q.S. Al-Mutaffiffin:1-7

Bohong atau dusta adalah perbuatan yang sangat merugikan. Dia menyangka dengan berbohong dia akan beruntung. Kalau dilihat sepintas sepertinya beruntung. Ketika dia membagi untuk orang lain dikuranginya, dan ketika membagi untuk dirinya dilebihkannya. Jelas sepintas lalu menguntungkan , ayat ini menjelaskan bahwa perbuataan yang dianggap beruntung itu sebenarnya merupakan kecelakaan besar bagi pelakunya.

Pernah seorang pemuda bertanya kepada Rasulullah, ya Rasulullah beri saya sedikit nasihat yang bisa menyelamatkan saya dari api neraka, Rasulullah menjawab ‘jangan berbohong. Kalau orang sudah takut berbohong maka dia tidak berani berbuat salah karena kesalahan akan ditutupi dengan kebohongan.

Kita lihat ditengah masyarakat begitu mudahnya orang berbohong. Ketika pembagian daging kurban, enak saja dia mengambil bagian yang besar dan yang kecil untuk orang lain dan dia menyangka perbuatannya hebat dan beruntung.

Dulu orang kalau menakar menggunakan dua gantang. Satu gantang untuk menjual dan satu lagi untuk membeli. Kalau dilihat gantangnya sama besar tapi dimainkan sehingga gantang untuk menjual lebih sedikit isinya dari pada gantang membeli, mereka menyangka perbuatan itu hebat, padahal mereka lupa bahwa di akhirat nanti perbuatan yang dilakukannya itu akan menjadi saksi.

Artinya : “Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”.(Q.S. Al-Mutaffiffin:7)

Bahaya dari kebohongan yaitu :

1. Menipu diri sendiri

Ketika kita melakukan kecurangan awalnya rohani kita mengatakan ini tidak boleh dilakukan. Tapi karena nafsu akhirnya kecurangan itu dilakukan juga, maka saat itu kita telah menipu diri sendiri.

2. Rusak hati nuraninya

Orang yang berbohong hatinya akan rusak dan melahirkan sikap pendengki, cemburu, seolah-olah orang hanya membicarakan penyakitnya saja. Dia marah orang mencari penyakitnya padahal dia betul yang berpenyakit. Orang yang rusak hatinya akan terpancar diwajahnya. Walaupun zahirnya bagus tapi kalau hatinya rusak maka orang akan takut melihat wajahnya. Begitu juga sebaliknya, mungkin wajahnya biasa bahkan hitam kulitnya tapi karena hatinya bersih terpancar diwajahnya sehingga wajahnya enak dilihat.

TAKRIFY FI UJHIHIM NADRATUNNAIN

3. Membuat kebencian orang

Pada awalnya mungkin dua orang bersahabat baik, tapi setelah ada penipuan maka persahabatan yang telah lama dijalani langsung rusak. Silaturrahmi akan putus karena salah satu diantaranya berkhianat. Seperti kata orang minang “Musang Babulu Ayam”.

4. Merusak kehidupan

Ada orang yang telah mendapatkan pekerjaan, setelah kerja didapat dan diberi kepercayaan lalu dengan mudah dirusaknya kepercayaan tersebut, maka saat itu dia telah merusak kehidupannya karena orang tidak mau lagi berurusan dengan dia. Hukum manusia lebih berat dari hukum Allah SWT, karena Allah SWT penerima taubat, tapi kalau dengan manusia tidak, SEKALI LANCUNG KE UJIAN SEUMUR HIDUP ORANG TAK PERCAYA.

Ada orang punya masa lalu yang kurang baik kemudian bertobat, tapi kesalahan lamanya tetap diungkit orang. Dia uztadz, orang akan katakan bahwa dia hanya pandai bicara, saya tahu betul kalau dia itu orang yang rusak. Jelas dia telah taubat tapi masyarakat tidak mudah menerimanya. Bayangkan, uztadz yang merupakan nilai kebaikan bisa menjadi keburukan karena pernah melakukan kesalahan. Jelas bagi kita bahwa kebohongan atau kesalahan merusak sendi kehidupan kita.

5. Tempatnya neraka

Ini yang paling bahaya, orang yang curang tempatnya neraka. Walaupun masih didunia terasa di neraka, hidup penuh ketakutan.

Orang yang sering berbuat curang maka hatinya tidak bisa lagi menangkap kebenaran, walaupun dia baca Alquran tapi tidak membawa manfaat. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Makanya kita camkan betul dalah hati kita, Kita Tidak Akan Berbohong, Biar Miskin Daripada Berbohong.

ASMAUL HUSNA (AL-HAFIZ)

Asmaul Husna (Al Hafiz)
Oleh
H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ(20)

Artinya: Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.(Q.S. Lukman:20)

Dalam ayat ini Allah suruh kita memperhatikan dan merenung. Dan dalam ayat ini Allah bagi pula nikmat itu menjadi nikmat zahir dan nikmat batin. Kita memohon kepada Allah agar memberikan, melimpahkan kedua nikmat itu kepada kita. Nikmat zahir berupa kebendaan yang bisa dilihat dan nikmat batin tidak bisa kita lihat tapi kita rasakan. Misalnya orang kaya secara zahir memang diberi limpahan kekayaan tapi belum tentu bahagia. Sebaliknya orang miskin kekurangan harta tapi diberi Allah nikmat batin, ketenangan dan rasa cukup apa yang ada. Allah lah yang memiliki semua nikmat itu. Tanpa nikmat batin tidak ada gunanya harta kekayaan jika kenyataannya kita tetap saja resah dan tidak tenang. Jadi kedua nikmat tersebut sangat kita minta kepada Allah.
Sebenarnya kita mengatakan:
رَبَّنَا ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
kita meminta nikmat dunia dan nikmat akhirat yaitu nikmat batin dan ketentraman. Bagaimana perasaan kita tentram, biasanya karena apa yang kita lakukan, (Lahama kasabat Wa’alaiha Maktasabat) kita tentram karena apa yang kita lakukan. Kalau kita ingin tentram, pikirkan apa yang akan kita lakukan dan apa yang akan disampaikan. Orang yang hebat dipikirkannya dulu baru dia bicara, jadi akalnya didepan lidah. Dia tidak akan berkata-kata kecuali yang baik.
Al Hafiz, Maha pemelihara, maha menjaga sesuatu jangan sampai rusak dan goncang, menjaga setiap amal-amal manusia dan tidak akan hilang. Seperti dikatakan dalam ayat lain فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ sehelaipun rumput yang jatuh, semuanya dalam kitab kami terpelihara. Masya Allah alat apa yang dipakai Allah untuk menjaganya. Manusia akan tercengang ketika dibuka Iqra Kitabaka (ayat), cukup kamu yang menghitungnya. Kitab apa yang Allah pakai tidak tertinggal yang besar dan tidak terlupakan yang kecil. Ini jadi renungan bagi umat islam dan ini tidak boleh dimain-mainkan serta dipandang enteng. Inilah yang kuat dan benar. Jadi Allah itu maha Hafiz sehingga untuk orang yang menghafal Alquran dikatakan Hafiz. Begitulah kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang hafal Alquran.

AMALAN SUNNAH

AMALAN SUNAH

Oleh H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya : “Sesungguhnya Safa dan Marwah adalah sebahagian dari syi`ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. Al Baqarah: 158)

Dalam ayat ini Allah SWT mengatakan bahwa shafa dan marwa adalah sebagian dari syiar Allah SWT. Sejarah shafa dan marwa, dimana Siti Hajar berlari-lari untuk mencari air buat anaknya Ismail, dan ini dijadikan sebagai salah satu dari ibadah haji. Yang merupakan napak tilas (mengulang kembali) usaha sang ibu dalam mencari air minum untuk sang anak. Banyak lagi sebenarnya hikmah yang diambil dari shafa dan marwa ini.

Dalam ayat ini Allah SWT katakan “tidak berdosa”. Kenapa Allah katakan tidak berdosa kita mengerjakan sa’i disana? Ini dikarenakan pada waktu itu masih ada berhala peninggalan masa jahilliah. Walaupun ada berhala, umat Islam tidak berdosa untuk mengerjakan sa’i diantara berhala tersebut.

Nampak bagi kita begitu toleransi islam. Islam benci berhala tapi tidak langsung mencampakkan berhala. Dengan cara bertahap sampai akhirnya berhala itupun di buang. Kalaulah Nabi ketika menyuruh sa’i langsung membuang berhala maka akan terjadilah pertumpahan darah dengan orang yang masih menyembah berhala. Nampak di sini tingginya toleransi Nabi.

Dalam ayat ini Allah SWT juga mengatakan “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan (amal sunnah) maka sesungguhnya Allah maha mensyukuri dan maha mengetahui.

Dalam islam ada ibadah wajib dan ibadah sunnat. Ibadah wajib tidak bisa di tawar lagi harus dikerjakan. Sedangkan ibadah sunnat mengharapkan penilaian khusus dari Allah. Kalau ada orang mengaku islam tapi berani meninggalkan shalat, ibadah puasa di bulan ramadhan, punya kelebihan rezeki tapi tidak berzakat dan berhaji maka orang tersebut jelas kafirnya.

Untuk yang mengerjakan kebaikan atau amalan sunnat, Allah katakan dalam ayat ini, maka Allah mensyukuri perbuatan orang tersebut. MASYA ALLAH, Allah yang maha kaya mensyukuri sikap orang yang melakukan kebaikan maka merugilah orang yang tidak mau melakukan amalan kebaikan tersebut.

Seperti kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, kalau ada yang menambah dengan amalan sunnat yaitu puasa 6 hari di bulan Syawal maka bentuk penilain Allah SWT sama nilainya dengan berpuasa setahun penuh. Kalau kita lihat tinggi amalan sunnat seseorang maka sudah bisa di katakan baiknya orang tersebut.

Karena begitu tingginya amalan-amalan sunnat atau kebaikan ini, maka kita harus membiasakan dan melatih diri kita untuk melakukannya.

Untuk itu marilah kita perbanyak amalan kebajikan. Bayangkan Allah mensyukuri perbuatan kita tersebut. Kita biasakan shalat sunnat, puasa sunnat, berinfak dan yakin kita orang yang pemberi tidak pernah miskin dan camkan dihati bahwa kita tidak akan menjadi peminta-minta.

Minggu, 25 Januari 2009

BERLEPAS DIRI

BERLEPAS DIRI
Oleh : H. Zulkifli Imam Said


Firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ ءَابَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ ءَابَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ(170)


Artinya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?"
(Q.S. Albaqarah:170).

Di surat Al-Baqarah ayat 168 dan 169 Allah katakan bahwa di akhirat nanti akan berlepas diri orang yang diikut dari orang yang mengikut dan adanya penyesalan dari orang yang mengikut dan penyesalannya itu tiada ada artinya.
Sekarang diayat 170 Allah SWT gambarkan bahwa ada orang yang berbuat yang tidak benar, mereka hanya mengikuti apa yang telah dibuat nenek moyang mereka.
Kita yang diizinkan mengetahui informasi dari Alqur’an ini untuk tidak mengikuti yang salah, walaupun yang melakukan itu bapak atau nenek moyang kita. Sebagai generasi yang akan datang harus pandai membaca apa yang telah dibuat generasi terdahulu. Kelebihan mereka kita tiru dan kekurangan mereka kita tinggalkan sehingga kita akan menjadi generasi unggulan.
Kita dilarang mengikut yang salah dan disuruh mengikut yang benar walaupun yang melakukan orang kafir, kalau benar maka kita ikuti karena yang benar itu pasti datang dari Allah SWT (ALHAQQU MIRRABBIKA)
Allah ingatkan kita dengan Wal ‘Asri maka kita coba terjemahkan dalam kehidupan kita. Kita tidak mau menjadi Ghofilun (lalai) karena ini akan menghambat kemajuan kita.
Ada rumah makan di beberapa kotai yang khas dengan ayam gorengnya. Ternyata kelebihannya, setelah ayam di sembelih langsung digoreng tidak dibiarkan terletak dahulu. Jadi nampak, untuk menginginkan hasil terbaik tidak boleh lalai.
Kalau kita lihat orang tua kita lalai, maka kita tidak akan ikuti dan kita ingatkan mereka tentang bahayanya jika lalai dalam hidup ini. Kita hormat kepada orang tua, tapi apa yang salah dari mereka tidak akan kita ikuti, jangan kemalasan orang tua menjadikan alasan untuk berbuat hal yang sama. Kita harus punya jati diri, kita ingin sukses tanpa menumpang kesuksesan orang tua.
Mudahan-mudahan kita bisa menjadi yang terbaik, dari yang baik. Amin

HALAL LAGI BAIK

HALAL LAGI BAIK
Oleh : H. Zulkifli Imam Said


Firman Allah :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(168)إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ(169)

Artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Q.S. Albaqarah:168-169).

Dalam ayat ini Allah tujukan untuk seluruh manusia agar memakan apa pun yang ada di bumi dengan syarat yaitu halal dan baik.
Karena memang ada makanan yang halal tapi pada saat tertentu makanan itu tidak baik. Seperti durian jelas halal tapi pada saat tertentu durian itu tidak baik saat itu kita tidak boleh memakannya.
Ini harus menjadi perhatian, karena sekarang banyak makanan yang bentuknya halal tapi zat yang ada pada makanan itu tidak baik bagi kesehatan dan pada saat itu makanan tersebut tidak boleh kita makan.
Sekarang orang berusaha agar makanan yang dibuat kelihatan enak di pandang mata, segar dan mengundang selera. Untuk itu mereka tidak segan-segan menggunakan zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan.
Masing-masing Negara atau daerah punya makanan khas sendiri yang diminati oleh daerah atau Negara asal makanan tersebut. Sekarang orang membuat makanan yang diminati oleh seluruh daerah atau Negara, seperti ketika diatas pesawat, makanan yang disuguhkan benar-benar cocok untuk seluruh lidah sehingga negara manapun akan suka dengan makanan tersebut, untuk itu mereka upayakan makanan itu menarik, awet dan mudah dalam penyajiannya.
Seperti mie misalnya, kalau sekali-sekali kita memakannya mungkin tidak apa-apa kalau sudah menjadi kebiasaan maka hal itu bisa menyebabkan bahaya. walau itu enak dan praktis. Tapi bila jadi kebiasaan akan berbahaya, maka itu tidak kita sediakan.
Hidup ini tidak lebih dari kebiasaan. Perokok misalnya, dia tahu rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tapi karena telah menjadi kebiasaan maka susah untuk menghentikannya.
Ada seseorang yang mengatakan dia punya adik yang tidak mau di ajari dengan berbagai ilmu. Adiknya mengatakan, kalau saya pandai, nanti selalu saya yang disuruh, sehingga dia tidak mau memiliki banyak ilmu (Subhanallahu, ternyata masih ada orang yang berpikir malas seperti itu ).
Kita hidup didunia sekali dan sangat sebentar. Kalau kita malas dan sedikit kepandaian berarti kita hidup tidak bermanfaat. Alangkah malangnya kita hidup di dunia tapi tidak bermanfaat. Maka usahakanlah diri kita betul-betul bermanfaat dan mari sama-sama kita berdoa “ Ya Allah, Berikanlah kami kehidupan kalau kami masih bermanfaat dan matikan kami kalau kami tidak bermanfaat lagi. Amin

KESENANGAN YANG BERMANFAAT

KESENANGAN YANG BERMANFAAT
Oleh
H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِوَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)


Artinya : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (Q.S. Albaqarah:164)



Allah mengatakan, silih bergantinya malam dan siang sungguh terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Kita melihat Allah tidak main-main dengan waktu. Banyak ayat Al-Qur’an dimana Allah bersumpah dengan waktu, seperti Wal Asri, Wal lail, Wal Fajri dan lain sebagainya. Ini menunjukkan agar orang yang membaca dan mendengarnya berhati-hati dalam menggunakan waktu.
Setiap waktu harus diisi dengan yang bermanfaat. Orang kafir berusaha agar kita melalaikan waktu, walasri kita yang punya tapi dalam menghargai waktu orang kafir yang lebih unggul.
Orang-orang yang ingin menguasai dunia dan tidak ingin negara berkembang menjadi negara maju, akan berusaha untuk membuat orang-orang yang hidup di negara berkembang menjadi manusia lalai.
Pabrik rokok mereka yang punya sedangkan kita yang tukang isap rokoknya. Mereka buat pertunjukkan band diberbagai kota untuk meracuni remaja kita, berbondong-bondong remaja menyaksikan, berdesakkan laki-laki dan perempuan bahkan ada yang makan korban.
Generasi kita sudah diracuni dengan musik, playstation, yang menyebabkan mereka malas belajar. Sedangkan generasi mereka, mereka jaga sebaik-baiknya diajar disiplin yang ketat. Generasi mereka tumbuh dengan disiplin tinggi sementara generasi kita tumbuh dengan malas penuh khayalan.
Mereka betul-betul menghargai waktu, 5 menit saja terlambat sudah kesalahan besar sementara kita terlambat satu jam pun tidak merasa bersalah.
Jangan biarkan ada waktu kosong dalam hidup, karena syaitanlah yang akan mengisi kekosongan itu. Waktu kosong digunakan untuk berkelakar dan menyinggung perasaan teman, ini bahaya sekali. Pada awalnya hanya seloroh tapi syaitan masuk akhirnya bisa menjadi pertengkaran. Kita lihat bencana besar pada awalnya karena kesalahan kecil, karena lalai dalam mempergunakan api bisa menyebabkan kebakaran besar.
Usahakan dalam hidup ini, kita tidak menyakiti hati orang lain maka bisa hidup dengan aman, seperti kata Gandi “Dunia ini jahat maka perlakukanlah dunia ini dengan baik, baru anda bisa hidup di dunia”. Ini jelas agama kita yang punya. Nabi katakan tebarkan salam artinya kitalah yang menebarkan keselamatan, dimana kita berada yang ada disekitar kita akan merasa aman.
Sasaran pendidikan di Indonesia menciptakan “Insan Kamil” kalau sasaran ini berhasil tentu anak SLTP lebih bagus akhlaknya dari anak SD, anak SMU lebih bagus akhlaknya dari anak SLTP begitu juga mahasiswa akan lebih bagus akhlaknya dari anak SMU.
Kenyataan yang kita lihat, kita tidak bisa membedakan antara mahasiswa dengan preman, baik dari segi cara berpakaian, adab atau tutur katanya tidak tampak tanda-tanda sebagai seorang yang berpendidikan/ intelektual.
Allah mengatakan dalam ayat ini, “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi di jadikan ikhtibar bagi orang yang mau berfikir”. Subuh sekarang bukanlah subuh yang kemaren, tidak ada orang yang sanggup mengembalikan subuh yang kemaren. Ketika datang pergantian hari, mari kita sambut dengan optimis dan penuh semangat.
Kalau hati yang mau serta semangat yang tinggi, tidak ada kata susah. Susah bagi yang tidak menginginkannya.
Dalam ayat ini Allah juga katakana, Allah telah menurunkan air dari langit untuk kehidupan di bumi. Ketika hujan, saat itu Allah membagi air kehidupan maka jangan pernah mencela ketika hujan turun. Seharusnya kita berdoa ketika hujan turun “ Ya Allah Engkau telah turunkan hujan di bumi ini, Ya Allah Engkau turunkan pula rahmat-Mu kepada kami Ya Allah”, Amin
Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang telah diciptakan Allah SWT. Amin

SUCIKAN DIRI DENGAN BERPUASA

SUCIKAN DIRI DENGAN BERPUASA
Oleh:
H. ZULKIFLI IMAM SAID


Firman Allah:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya : Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah:129)


Bila kita perhatikan Al Qur’an mulia dari sekian banyak tugas Rasul salah satunya ialah membersihkan manusia, yang dibersihkan bukan fisik tapi adalah hati manusia. Bila hati itu baik maka baik pulalah kerja manusia itu, dan bila hati manusia jelek maka jelek pulalah kerja manusia itu.


Perbuatan manusia adalah gambaran dari hatinya. Melalui perbuatan seseorang dapat dibaca hatinya. Untuk memperbaiki hati itu manusia harus beribadah kepada Allah SWT. Salah satu dari Ibadah itu adalah puasa. Setiap bulan Ramadhan or­ang beriman itu diperintah berpuasa, dengan puasa itu diharapkan manusia akan memiliki pribadi mulia (taqwa). Pribadi taqwa akan didapatkan bila benar-benar kita puasa berlandaskan Iman dan perhitungan.
Dikatakan demikian karena Rasulullah juga menjelaskan banyak orang yang berpuasa hadiahnya hanya sekedar lapar dan dahaga saja, nilai disisi Allah kosong sama sekali. Ada anggapan sebahagian orang bila mereka telah menahan lapar dan haus otomatis mereka akan menjadi orang bertaqwa, tidak demikian tapi harus diperhatikan hikmah dari puasa itu. Allah tidak ingin kita lapar. Bila dengan puasa itu lahir pribadi yang agung barulah bernilai puasa itu, inilah yang dicita-citakan.
Orang beriman itu diperintahkan meninggalkan yang halal, milik sendiri yang didapat secara halal dilarang memakan dan menikmatinya siang hari dibulan Ramadhan. Pribadi yang telah berani meninggalkan yang halal tentu tak mungkir, akan menjamah yang haram/makruf. Bila ada orang berpuasa tetapi biasa saja memakan yang haram tentu puasa yang dilakukan bukan karena Iman dan perhitungan. Mungkin karena segan dan ikut-ikutan, orang yang berpuasa ikut-ikutan itu jauh sebelum bulan Ramadhan pemikirannya sudah tertuju kepada pemuasan dibulan Ramadhan.
Sering kita dengar waktu ceramah tarawih ustadz menyampaikan ada orang jauh sebelum puasa telah menyediakan segala kebutuhan puasa seperti gula, gula puasa, cabe, cabe puasa, daging, daging puasa, ayam, ayam puasa dan lain sebagainya, yang terpikir bagaimana memuaskan selera dibulan puasa itu. Setiap sore keliling mencari makanan yang sedap untuk berbuka. Bila puasa telah berlalu beberapa hari perhatian beralih pula kepada kebutuhan lebaran, pakaian, perabot rumah tangga, kendaraan dan lain sebagainya, karena banyaknya kebutuhan berubahlah puasa dari menahan jadi berpuas. Hilanglah nilai agung dari puasa itu.
Selain daripada Iman juga diperlukan kehati-hatian dalam menjaga ibadah puasa dan segala yang akan merusaknya. Kita tahu puasa untuk pengontrol nafsu, nafsu yang tak terkontrol senantiasa menyuruh kepada kekejian dan kemungkaran.
Bila ada kekejian dan kemungkaran itu adalah kerja nafsu yang tak terdidik dan terkontrol. Mudah-mudahan puasa yang kita lakukan ini dapat merobah sikap dan perbuatan kita. Ibarat berpuasanya ulat di dalam kepompong, sebelum berpuasa ulat binatang yang menjijikkan dan setelah keluar dan kepompong menjadi kupu-kupu Indah dan menawan, mudah-mudahan demikian juga dengan kita, Amin